Bahaya Lisan

diam1

Arahan:

  • Peserta menyadari bahwa lidah merupakan salah satu nikmat Allah
  • Peserta mengetahui kegunaan dari lidah
  • Peserta memahami bahaya lisan
  • Peserta mengerti adab dalam berbicara
  • Peserta termotivasi untuk selalu menjaga lisannya

Pendahuluan

   Ada yang tahu ngga lisan itu apa? Nah… benar! Lisan adalah kata-kata, dan kata-kata ini keluar lewat apa? Ya benar, melalui mulut kita dan di mulut ini ada gigi dan lidah yang membuat pengeluaran/pengucapan lisan kita. Lidah termasuk nikmat Allah SWT yang sangat besar bagi kita. Kebaikan yang diucapkannya melahirkan manfaat yang luas dan kejelekan yang dikatakannya membuahkan ekor keburukan yang panjang.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah telah memperingatkan kita untuk mempergunakan lidah kita dengan hati-hati , bunyi haditsnya sebagai berikut : Dari Abi Hurairah r.a., sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda : “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, maka hendaklah ia berkata yang baik-baik atau hendaklah ia diam; dan barangsiapa yang percaya kepada Allah dan hari kemudian, maka hendaklah menghormati tetangganya, dan barangsiapa yang percaya kepada Allah dan hari kemudian, maka hendaklah menghormati tamunya.” (H.R. Bukhari-Muslim).

Guna Lidah

  1. Lidah itu banyak gunanya, antara lain :
  2. Untuk menyerukan kebenaran (Q.S. 3: 110)
  3. Untuk melarang kemungkaran (Q.S. 3: 110)
  4. Untuk memberikan nasehat yang baik (hadits tentang hak muslim atas muslim lain)
  5. Untuk berbicara di depan penguasa yang dzalim
  6. Untuk mendamaikan kedua orang yang berselisih
  7. dll (cari sendiri contohnya dalam kehidupan sehari-hari)

Seperti ular berbisa, lisan pun sangat berbahaya. Bila kita tidak menjaganya, bahkan mungkin sakit yangdiakibatkannya melebihi sakitnya gigitan ular berbisa. Siapa pun tidak akan selamat dari kejahatan lidah, kecuali bia dia bisa mengendalikan dengan tidak berbicara kecuali yang bermanfaat di dunia dan akhirat (susah, yah… soalnya kita kan senang ngobrol).

Mau tahu bahayanya lisan? Siapa yang mau nyoba ngasih jawabannya, apa aja sih bahaya lisan itu? Nah bener itu… ngegosip itu termasuk bahaya lisan. Udah pada tau khan ngomongin orang itu nggak boleh. Ada lagi yang tahu?? Ya, benar…. Memfitnah, mengadu domba, berdusta, dan berbicara berlebih-lebihan juga termasuk ke dalam bahaya lisan. Kalian sudah pada tahu Ummul Mu’minin ‘Aisyah? Nah beliau pun pernah kena fitnah orang-orang yang dengki kepadanya.

Kisahnya diabadikan dalam Q.S. 24 : 11, yaitu “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.”

Berita bohong apa sih yang bikin heboh itu, sampai-sampai Allah memasukkannya ke dalam Al-Qur’an? Nah… berita bohong ini mengenai istri Rasulullah, Ummul Mu’minin ‘Aisyah r.a. sehabis perang dengan Bani Mushthaliq bulan Sya’ban 5 H. Peperangan ini diikuti oleh kaum munafik, dan turut pula ‘Aisyah dengan Nabi berdasarkan giliran yang telah disepakati di antara istri-istri Nabi.

Dalam perjalanan mereka kembali dari peperangan, mereka berhenti pada suatu tempat. ‘Aisyah keluar dari sekedupnya (tandu yang tertutup) untuk suatu keperluan, kemudian kembali. Tiba-tiba beliau merasa kalungnya hilang, lalu dia pergi mencarinya. Sementara itu, rombongan berangkat dengan persangkaan bahwa ‘Aisyah masih ada di dalam tandu (berat badan ‘Aisyah waktu itu ringan kali, ya… jadi perbedaan antara ada dan tidak ada Aisyah dalam tandu nggak akan kerasa sama yang nandunya).

Setelah ‘Aisyah mengetahui tandunya sudah berangkat, dia duduk di tempatnya dan mengharapkan tandu dan rombongan itu akan kembali menjemputnya. Kebetulan lewat di tempat itu seorang sahabat Nabi, Shafwan ibnu Mu’aththal. Diketemukannya seseorang sedang tidur sendirian dan dia terkejut seraya mengatakan, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, istri Rasulullah.” ‘Aisyah terbangun.

Lalu dia dipersilahkan oleh Shafwan mengendarai untanya. Shafwan berjalan berjalan menuntun unta sampai mereka tiba di Madinah. Orang-orang yang melihat mereka membicarakannya menurut pendapatnya masing-masing. Mulailah timbul desas-desus. Kemudian kaum munafik membesar-besarkannya, maka fitnah atas ‘Aisyah r.a. itupun bertambah luas, sehingga menimbulkan kegoncangan di kalangan kaum muslimin.

Ternyata fatal juga ya akibatnya, hanya karena seseorang mengatakan berita bohong bisa menggoncangkan stabilitas sebuah negara (keren banget khan istilahnya). Ngomongnya sih ringan, bahkan mungkin kita tidak ingat apa yang baru saja kita ucapkan, padahal dia pada sisi Allah adalah besar (Q.S. 24 : 15). Contoh di atas adalah kisah tentang bahayanya memfitnah orang. Nah… sekarang bagaimana halnya dengan ghibah alias ngomongin orang.

Dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah pernah bersabda, “Tahukah kamu apakah Ghibah itu?”, para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu!”. Lalu beliau melanjutkan, “Yang kamu menceritakan saudaramu tentang hal yang tidak disukainya.” Lalu seseorang bertanya, “Bagaimana pendapatmu bila apa yang aku katakan ada pada diri saudaraku yang aku ceritakan?” Beliau menjawab, “Bla apa yang kamu ceritakan itu ada pada diri saudaramu, maka kamu telah melakukan ghibah terhadanya. Dan bila apa yang kamu katakan itu tidak ada pada diri saudaramu, berarti kamu telah mengada-ngada tentangnya.” (H.R. Muslim)

Bahkan Allah mengibaratkan orang yang suka ghibah itu seperti halnya dia memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati (Q.S. 49 : 12). Oleh karena itu, kita perlu tahu apa saja yang termasuk adab-adab dalam berbicara.
Adab berbicara :
1.   Pada orang tua

  • Tidak boleh berbicara lebih keras
  • Tidak boleh membantah
  • Tidak boleh berkata “ah”
  • Tidak boleh berkata-kata yang menyakiti hatinya
  • Berkata lemah-lembut dan kasih sayang

2.   Pada teman/saudara/kakak/adik

  • Tidak boleh mengejek
  • Lemah-lembut dan penuh kasih sayang
  • Berbicara seperlunya saja
  • Tidak boleh menyombongkan diri
  • Tidak boleh berlebih-lebihan dalam berbicara

3.   Pada guru

  • Seperti kepada orang tua kita

Ada juga dusta yang dimaafkan oleh Allah. Mau tahu ngga?? Contohnya, berdusta demi keselamatan nyawa kita dan aqidah kita. Seperti yang pernah dialami oleh Amar bin Yasir ketika ia mendapat siksaan yang bertubi-tubi dan tak tertahankan dari kaum kafir Quraisy.

Contoh lainnya adalah dusta untuk mendamaikan dua orang yang berselisih (sekarang mah kebanyakan kebalikannya, orang yang tidak berselisih dibuat berselisih dengan dusta yang menyesatkan). Contoh dusta lain yang diperbolehkan adalah dusta seorang suami untuk menyenangkan istrinya (kalo belum nyambung jangan dikasih ke anak-anak!). Cuman sedapat mungkin kita harus menghindari berkata dusta dan sia-sia.

Penutup

Alangkah baiknya kalau kita tutup materi bahaya lisan ini dengan sebuah hadits. Dari Mu’adz bin Jabal telah berkata: Aku telah berkata: “Ya Rasulullah! Beritahulah aku suatu amal yang dapat memasukkan aku ke dalam syurga dan menjauhkan aku dari neraka.” Nabi menjawab : “Engkau telah bertanya tentang perkara yang besar, dan sesungguhnya itu adalah ringan bagi orang yang digampangkan oleh Allah ta’ala atasnya. Engkau menyembah Allah dan jangan menyekutukan sesuatu dengan-Nya, dan mengerjakan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah.” Kemudian beliau berkata : “Inginkah engkau kuberi petunjuk padamu akan pintu-pintu kebaikan? Puasa itu adalah perisai dan sedekah itu menghapuskan kesalahan, sebagaimana air memadamkan api dan shalat seseorang di tengah malam.” Kemudian beliau membaca Q.S. As-Sajadah : 16-17. Kemudian beliau bersabda, “Maukah bila aku beritahukan padamu pokok amal dan tiang-tiangnya, serta puncak-puncaknya?” Aku menjawab, “Ya hai Rasulullah.” Rasulullah bersabda, “Pokok amal adalah Islam dan tiang-tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad.” Kemudian beliau bersabda, “Maukah kuberitahu padamu tentang kuncinya perkara itu semua?” Jawab, “Ya hai Rasulullah.” Maka ia memegang lidahnya dan bersabda : “Jagalah ini.” Aku berkata, “Hai Rasulullah apakah kami dituntut (disiksa) karena apa yang kami katakan?” Maka beliau bersabda : “Semoga selamat engkau! Adakah yang menjerumuskan orang atas mukanya (atau sabdanya, ke atas batas hidungnya) ke dalam neraka, selain buah ucapan lidah mereka? (H.R. Tirmidzi)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: