Jadi Suporter Sambil Jualan Batik

7 Juni 2010
Nelson Mandela (kiri) dan Presiden FIFA, Sepp Blatter, duduk di depan trofi Piala Dunia.

Pakailah baju batik di Afrika Selatan, maka Anda akan mendapat penghormatan yang luar biasa dari rakyat Afsel. Begitulah saran dari seorang diplomat Indonesia yang  berada di kantor Kedubes RI untuk Afrika Selatan, di Pretoria, akhir September 2005 lalu.

Di seluruh sudut kota besar di Afrika Selatan bisa kita jumpai billboard-billboard ukuran raksasa dengan gambar Nelson Mandela. Pada billboard-bilboard itu, Bapak Bangsa Afrika Selatan ini berpose dengan senyum khasnya. Ada pesan dalam billboard itu yang rata-rata berisi ajakan untuk membangun bangsa dan negara.

Persis seperti di negeri kita di zaman Presiden Soeharto dulu, di Afsel sana Mandela pun mengajak rakyatnya bekerja keras, mengajak ibu-ibu tidak lupa memberi imunisasi pada bayi mereka, menyerukan pemuda berprestasi dalam olahraga. Yang menarik, gambar Mandela di seluruh billboard-billboard raksasa itu sedang mengenakan kemeja batik. Luar bisaa.

Bagi rakyat Afrika Selatan, batik memang sudah menjadi barang luks. Bagaimana tidak, Mandela yang mereka puja, di mana pun dan dalam acara apapun, resmi atau tidak resmi, nasional maupun internasional, selalu mengenakan batik. Seolah-olah, Mendela tidak memiliki kemeja lain kecuali batik. Seolah-olah kemeja batik Mandela ready stock. Dan yang terpenting, batik yang dikenakan Mandela, seluruhnya benar-benar asli made-in Indonesia, bukan batik produk negara mana pun lainnya.

Jadi, bagaimana rakyat Afrika Selatan tidak menghormati kita yang mengenakan batik saat jalan-jalan di sana? Lha wong, Mandela saja, Bapak Bangsa, orang yang paling mereka puja, selalu mengenakan kemeja batik.

Mandela sendiri sudah dua kali berkunjung ke Indonesia. Kunjungan pertamanya dilakukan tahun 1998, pada era Presiden BJ Habibie. Kunjungan keduanya dilakukan pada era Presiden Megawati, tahun 2002.

Saat berkunjung ke Indonesia untuk pertama kalinya, Mandela langsung jatuh cinta kepada batik. Karena itu, kemudian, Presiden Habibie meminta kepada Iwan Tirta, perancang papan atas busana Indonesia, pakar dalam bidang perbatikan untuk menghadap Presiden Habibie ke Istana Negara.

Lalu, Iwan Tirta pun diminta untuk melayani permintaan Mandela terhadap batik. Dan, ternyata rancangan dan pilihan motif Iwan Tirta, klop dengan selera Nelson Mandela. Sejak saat itu hingga kini, Iwan Tirtalah yang terus menerus memasok kebutuhan kemeja batik untuk Mandela, setiap saat, dengan jumlah yang unlimited dan harus ready stock.

Maka, berbanggalah kita bangsa Indonesia kepada Mandela. Karena, beliau adalah sales promotion paling top bagi batik Indonesia untuk citra dunia. Coba lihat, ketika Mandela hadir dalam acara resmi FIFA di markas besarnya di Zurich, Swiss, awal bulan Juni 2006 untuk menerima estafet tuan rumah penyelenggara World Cup, Mandela pun mengenakan batik, bukan jas, busana resmi bangsa-bangsa Barat.

Lalu bagaimana dengan para pejabat kita, pembesar Indonesia? Bisa dihitung dengan jari  pejabat kita  yang mau mengenakan batik untuk acara resmi internasional seperti itu. Beda dengan Nelson Mandela, buat para pejabat Indonesia, barangkal, lebih senang dan bergengsi bila mengenakan stelan jas ketimbang batik.

Souvenir jadi bisnis

Seorang tokoh pemuda Indonesia yang beberapa kali berkunjung ke Afrika Selatan, punya pengalaman menarik tentang batik. dia bercerita bahwa dalam suatu kunjungannya ke Afsel, ia membawa lima koli kemeja batik, maksudnya sebagai souvenir. Ia membelinya di Pasar Tanah Abang Jakarta, seharga Rp 30.000 per potong.

Setelah batik souvenir itu habis dibagi-bagikan kepada pemuda di Afsel, seorang sejawatnya, pemuda asli Afrika Selatan membisikinya. “Bagaimana kalau kita berbisnis batik,” ujarnya. Lalu, pembicaraan pun berlanjut dengan topik; mari berbisnis batik.

Di Afrika Selatan, batik yang kita beli seharga Rp 30.000 di pasar Tanah Abang Jakarta, atau Pasar Beringharjo Yogya, atau Pasar Turi Surabaya, atau Pasar Pusat Grosir Batik Setono Pekalongan, di negerinya Nelson Mandela bisa laku  dengan harga  300 sampai 400 Rend atau sekitar Rp 700.000 hingga Rp 800.000 per potong. Fantastis!!

Tentu, keuntungannya akan semakin besar bila kita punya modal untuk berbisnis ke Afrika Selatan, dengan jualan batik yang terbuat dari bahan sutera, seperti batiknya Iwan Tirta yang selalu dikenakan Nelson Mandela.

Jadi, jangan takut. Ayo ramai-ramai menyerbu Afrika Selatan pada Juni-Juli ini, untuk menyaksikan pesta sepakbola dunia World Cup Suoth Africa 2010. Kita boleh menjadi suporter untuk tim negara mana saja. Yang penting hisa happy-happy. Cukup membawa 100 potong kemeja batik dari ranah air, masukkan ke dalam koper, jual di sana dengan keuntungan bisa mencapai Rp 70 juta.

Tentu, keuntungan sebesar itu sudah sangat cukup untuk kita hidup sebulan di Afsel, sambil bersenang-senang bersama jutaan supporter yang datang dari seluruh dunia, dan pasti asyik. Apalagi sembari menyanyikan lagu ciptaan K’naan Waving Flag yang telah diresmikan menjadi Theme Song FIFA World Cup South Africa 2010: “Give me freedom, Give me fire… When I get older I will be stronger, They’ll call me freedom, Just like a wavin’ flag, And then it goes back, oh, oh, oh, oh…

sumber : kompas.com